Al-Jahiz: Ahli Biologi, Sastrawan, Teolog, Tapi Kocak

Al-Jahiz: Ahli Biologi, Sastrawan, Teolog, Tapi Kocak

Fikroh.com – Orang-orang di abad ini pastinya lebih mengenal Charles Darwin sebagai pencetus teori Evolusi dan Natural selection dengan buku penelitiannya, The Origin of Species. Tetapi banyak orang yang kurang familiar dengan tokoh evolusionis di zaman keemasan Islam sekitar sepuluh abad sebelum karya Darwin dipublikasikan pertama kali, dialah Abu ‘Utsman Amr bin Bahr Al-Kinani Al-Basrah Al-Jahiz, seorang Arab keturunan Afrika yang lahir di Basrah tahun 160 H./776 M. Beliau disebut Al-Jahiz yang secara harfiah berarti bermata menonjol.

Lahir dari keluarga sederhana tidak menyurutkan minat Al-Jahiz untuk menimba ilmu. Setelah menyelesaikan pekerjaannya menjual ikan dekat irigasi kota Basrah beliau mendatangi majelis ilmu, berkumpul dengan para pemuda lain untuk mendiskusikan berbagai pengetahuan yang nantinya menjadi dasar pemikiran beliau. Rasa hausnya terhadap ilmu pengetahuan mendorong Al-Jahiz untuk melanjutkan studinya selama 25 tahun sehingga menguasai berbagai ilmu seperti Ushuluddin, Biologi, Sastra, dan Humaniora. Selain itu Al-Jahiz juga mendalami Filsafat Yunani, utamanya pemikiran Aristoteles yang pada saat itu digemari oleh kaum cendikiawan.

Pengaruh Aristotelian bisa dilihat dari masterpiece beliau yang sepintas mirip buku Animalia Aristoteles berjudul Kitab Hewan-hewan ( الحيوان: Al-Hayawān ) berupa ensiklopedia setebal tujuh jilid, memuat sekitar 350 spesies hewan dilengkapi gambar- gambar ilustrasi serta penjelasan detail namun disajikan dengan penyampaian puitis diselingi anekdot. Al-Jahiz mengemukakan gagasannya tentang bagaimana hewan-hewan bertahan hidup, bertransformasi menjadi spesies baru, dan mengatasi faktor-faktor lingkungan. Al-Jahiz percaya bahwa satu spesies hewan atau tumbuhan bisa mengalami transformasi jangka panjang sehingga memunculkan spesies lainnya. Pada kitab tersebut dijelaskan pula kemungkinan asal kejadian manusia dari spesies kera, dan tumbuhan berasal dari ganggang laut yang terdampar di tepi pantai kemudian beradaptasi untuk hidup.

Al-Jahiz dalam kitab Al Hayawan juga mendeskripsikan mimikri, cara komunikasi hewan, tingkat kecerdasan serangga atau hewan lainnya seperti menjelaskan dengan detail perilaku semut dalam bekerja sama, bagaimana mereka menyimpan gandum di sarang dan menjaga agar tak busuk saat hujan. Kitab Al-Hayawan mempengaruhi pemikiran Ilmuwan Muslim setelahnya seperti Ibnu Miskawaih, Al-Biruni, Ibnu Thufail, dan Ibnu Mada bahkan menjadi buku rujukan para pakar biologi dan pemikir evolusi di Eropa. Miguel Asín Palacios, seorang imam Katolik Roma sekaligus ilmuwan mengatakan, karya Al-Jahiz sangat berarti bagi perkembangan sains, terutama zoologi.

Dalam bidang Teologi Al-Jahiz berguru kepada An-Nazzam, tokoh besar akidah Mu’tazilah di masanya. Kecerdasannya dalam banyak disiplin ilmu membuat Al-Jahiz memiliki tempat di lingkungan Mu’tazilah, akidah resmi Dinasti Abbasiyah sejak masa Al Ma’mun. Menurut Ibn Nadim, Al-Jahiz membela Abu Hudzail Al-Allaf saat Bisyr Ibn Al-Mu’tamir menghujatnya. Dan di saat yang hampir bersamaan Ja’far Ibn Mubasyir mengarang kitab untuk membantah statemen Al-Jahiz. Karir beliau melejit ketika Khalifah Al-Ma’mun mengapresiasi karya tulisnya mengenai institusi Kekhalifahan yang mengantarkannya menjadi seorang katib di Baghdad. Dari sinilah beliau mengawali karirnya sembari menghasilkan tulisan-tulisan brilian yang mencapai 200 buku, walaupun hanya 30-an judul saja yang dapat diidentifikasi saat ini.

Al-Jahiz sendiri bahkan membentuk firqah dalam Mu’tazilah yaitu Jahiziyyah dimana aliran ini memadukan akidah Mu’tazilah dengan ilmu alam. Dalam tulisan-tulisannya mengenai akidah, ia menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan manusia berasal dari diri manusia sendiri dan dipengaruhi juga oleh hukum alam yang disebut Sunnatullah. Al-Jahiz juga mengatakan bahwa Al-Qur’an itu jism yang bisa berubah menjadi pria atau wanita. Menurut Al-Jahiz, penduduk neraka menjadi bagian dari api neraka karena Allah ﷻ telah memasukkan mereka ke dalamnya. Barangkali gagasan teori Evolusi ala Al-Jahiz dipengaruhi oleh akidah Mu’tazilah yang mengutamakan akal untuk menafsirkan dalil Syar’i.

Paham ini pun mempengaruhi pemikiran Muammar bin Abbad yang sama-sama seorang teolog Mu’tazilah. Muammar bin Abbad mengatakan bahwa Tuhan hanya menciptakan benda-benda materi. Adapun sesuatu yang datang pada benda-benda itu adalah hasil dari hukum alam. Misalnya, jika sebuah batu dilemparkan ke dalam air maka gelombang yang dihasilkan oleh lemparan batu itu adalah hasil dari kreasi batu itu sendiri bukan ciptaan Tuhan. Sebagai ulama Ushuluddin Mu’tazilah, Al-Jahiz juga menulis kitab untuk menanggapi hujatan umat Kristen terhadap Islam. Kitab tersebut berjudul Jawaban pilihan atas orang Nasrani ( مختار في رد على النصارى; Mukhtār Fi Raddī ‘Alā An-Nashārā ).

Selain sebagai ahli biologi dan ulama Ushuluddin, Al-Jahiz adalah seorang sastrawan karena dahulu beliau belajar tata bahasa dan sastra dari para ulama terkemuka seperti Al-Asma’i, Abu Ubaidah, serta Abu Zaid. Kecakapannya terhadap bidang sastra dan public speaking tercermin dari kitabnya yang berjudul Kitab Kepandaian bicara dan menyampaikan pernyataan ( كتاب البيان و التبيين; Kitāb Bayān Wa Tabyīn ) menjelaskan tentang kefasihan berpidato, surat menyurat, dan tulis-menulis serta cara mempengaruhi orang lewat ketangkasan berbicara. Al-Jahiz yang gemar bercanda ini pun mengarang karya tulis berjudul kitab orang-orang bakhil ( كتاب البخلاء; Kitāb Al-Bukhalā’ ) yakni sekumpulan anekdot mengenai ketamakan manusia seperti guru, pengemis, penyanyi, atau penulis akibat sikap tidak tepat dalam berhemat yang justru menjerumuskan mereka ke dalam kekikiran. Kitab ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Kumpulan anekdot beliau yang lain adalah kitab bualan para Jariyyah dan bujang ( كتاب مفخرات الجوار و الغلمان; Kitāb Mufakharāt Al-Jawāri wal Ghilmān ) mengisahkan cerita-cerita erotis di kalangan masyarakat Arab seperti kisah Homoseksual dan lesbian lalu menyindir pelakunya secara sarkastik. Bukunya dalam bidang Humaniora ialah Buku Orang Negro ( Kitab Al-Jinz ), mengabarkan sejarah orang Jinz atau orang Negro Afrika, kehidupan mereka, beserta kebudayaannya.

Sikap sering bercandanya membuat beberapa ulama enggan mengambil rujukan dari beliau. Diceritakan bahwa khalifah Al-mutawakkil menarik kembali anak-anaknya dari pembinaan al jahiz setelah mereka ketakutan dengan kelakuan Al-Jahiz dan beliau pun memutuskan pensiun untuk kembali ke tempat kelahirannya. Kekonyolannya itu terbawa sampai menjelang akhir hidupnya pada tahun 868 M./255 H. saat Khalifah Al-Mu’tazz Billah berkuasa, Al-Jahiz sang ilmuwan nyeleneh memilih kematiannya dengan cara berbeda, tapi sedikit elegan. Beliau meninggal dunia ketika akan mengambil sebuah buku di perpustakaannya, rak buku itu jatuh menimpa tubuh Al-Jahiz yang tidak dapat menyelamatkan diri akibat penyakit kelumpuhan total pada satu sisi tubuh ( Hemiplegia ) yang dideritanya. Bahkan saat kematiannya pun Al-Jahiz tetap menyajikan anekdotnya. Wallahu a’lam bisshawab.

Referensi:

Al-Azizi, Abdul Syukur. 2018. Untold Islamic History. Yogyakarta: Laksana.

Al-Baghdadi, Abdul Qahir bin Thahir. 1982. Al-Farqu Baina Al-Firaq. Beirut: Dar Al-Afaq Al-Jadidah.

Hitti, Philip Khuri. 2014. History of the Arabs. Jakarta: Penerbit Zaman.

Ibn Nadim, Abul Faraj Muhammad Ibn Ishaq. 2013. Al-Fihrist Li Ibn Nadim.
Beirut: Dar Al-Ma’rifah.

Oleh: Abu Bakar Ibn Ghazali Al-Kailandari

About semar galieh

Check Also

Bolehkah Mengakikahi Diri Sendiri Setelah Dewasa?

Fikroh.com – Sebelumnya perlu untuk diketahui, bahwa akikah hukumnya sunah muakadah (sunah yang ditekankan), bukan …