Cheng Ho Peranannya Dalam Misi Diplomatik dan Penyebaran Agama Islam

Di bawah pengaruh kuat orang Muslim di Istana Ming, Hongwu dan Yongle cenderung menguntungkan Islam. Seorang teolog Muslim Konfusian terkemuka, Liu Zhi, dalam Kitab Tianfang Dianli menyatakan  bahwa semasa pemerintahan awal Hongwu, Kaisar ini membangun sejumlah masjid di Nanjing, Yunnan, Guangdong dan Fujian, serta menulis :

“Ratusan Kata-kata Pujian” untuk menghormati kearifan sang Nabi.

Demikian pula, pada 1407, Yongle mengeluarkan sebuah peraturan perlindungan dalam sebuah tulisan untuk mencegah orang-orang Muslim dari intimidasi dan penghinaan pejabat-pejabat militer dan sipil serta publik luas. Siapa saja yang melanggar peraturan itu akan dihukum sebagai penjahat. Peraturan itu dipasang di Masjid-masjid di Yangzhou, Fuzhou dan Quanzhou.

Yongle menggambarkan Orang-orang Muslim sebagai kaum yang loyal, dermawan dan saleh. Selain itu, banyak jendral yang tergabung dalam kelompok pemberontak Zhu Yuanzhang yang memberi sumbangan sangat besar dalam mengenyahkan pemerintahan Mongol dan mengkonsolidasikan kekuatannya pada awal pembangunan bangsa adalah Orang-orang Muslim, seperti Chang Yuchun, Mo Ying, Lan Yu, Fu Youde dan Feng Sheng. Mereka tetap mengabdi pada Zhu Yuanzhang setelah dia Naik Tahta.

Setelah itu kekuatan baru lainnya, para kasim, terutama kasim-kasim Muslim, naik panggung ke panggung sejarah untuk melayaninya di Istana Ming. Kasim-kasim Muslim tidak hanya berpengaruh, tetapi juga memainkan peranan dalam misi-misi eksplorasi maritim, diplomatik dan perdagangan luar negeri Dinasti Ming.

Matteo Richi menerangkan bahwa itu merupakan adat istiadat orang-orang Turki dan Arab untuk memperkerjakan kasim-kasim Muslim yang bertanggung jawab atas harem sultan. Mereka dipercaya karena loyalitas dan kesetiaan mereka, dan mereka memiliki akses langsung ke kaisar. Karena itu, mereka kerap diberi tugas-tugas khusus dan bahkan misi-misi rahasia. Hasil ini menjelaskan mengapa Kasim Agung Cheng Ho dan Kasim Wang Jinhong masing-masing diangkat sebagai Kepala Utusan dan Wakil Kepala Utusan yang memimpin tujuh ekspedisi maritim besar ke barat.

Cheng Ho memiliki latar belakang keluarga Muslim yang jauh lebih kuat dibanding Zhu Yuanzhang dan Zhu Di (Yongle).

Dia berasal dari keluarga Muslim terpandang di Yunnan yang leluhurnya bermigrasi dari Asia Tengah pada 1070 M semasa Dinasti Song. Kakek buyutnya, Sayyid Ajall Syamsuddin, pernah menjabat Gubernur Yunnan semasa Dinasti Yuan. Meskipun berlatarbelakang Muslim, dia tidak memusuhi keyakinan agama lain. Dia menjalankan perintah kaisar untuk membangun masjid-masjid dan kuil-kuil Mazu (Dewi Laut) di China dan memberi sejumlah hadiah kepada sebuah kuil Buddhis di Ceylon sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas-tugas diplomatiknya. Dia bahkan mengizinkan pembangunan altar-altar diatas geladak kapal-kapal harta benda bagi para awak kapal untuk memuja Dewi Laut (Mazu) guna memohon perlindungannya selama menempuh perjalanan.

Memenuhi tuntutan agama untuk berziarah (menunaikan ibadah haji) adalah kewajiban paling penting bagi seorang Muslim, tetapi Cheng Ho terlalu sibuk dengan misi yang dikerjakannya sehingga ia gagal menunaikan ibadah haji ke kota suci Mekkah, kendati dia telah beberapa kali melewati negeri-negeri Arab. Namun  demikian, saat perjalanan laut terakhir dari (selat) Hormuz, dia mengirimkan beberapa awak kapalnya untuk menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Beberapa awak kapal armada Cheng Ho dari komunitas Hui Hui Muslim yang terkemuka, diantaranya:

1. Ma Huan; Haji; alias Zongdao, pribumi Zhejiang; keturunan Asia Tengah; fasih berbahasa Arab dan Persia. Direkrut oleh Cheng Ho sebagai Tongsi (penerjemah) dan awak kapal pada pelayaran ke-4, ke-6 dan ke-7; pengarang Kitab Yingya Shenglan, sebuah laporan pandangan mata penting tentang perjalanan-perjalanan laut ini.

2. Fei Xin, Haji; alias Gongxiao, penerjemah, fasih berbahasa Arab; tergabung dengan Cheng Ho pada ekspedisi ke-3, ke-5 dan ke-7; penulis Kitab Xingcha Shenglan.

3. Gong Zhen, awak kapal pada pelayaran ke-7; penulis Kitab Xiyang Fanguozhi.

4. Wang Jinhong, Haji, wakil ketua komandan dan wakil ketua utusan; orang kepercayaan Cheng Ho di seluruh tujuh pelayaran.

5. Hong Bao, Haji; wakil ketua utusan pada pelayaran ke-7; dikirim Cheng Ho untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

6. Yang Zhen, Haji; wakil ketua utusan pada pelayaran ke-7; juga dikirim Cheng Ho untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

7. Guo Chongli, Haji; penerjemah, mahir berbahasa Arab dan Persia; awak kapal pada pelayaran ke-4, ke-6 dan ke-7.

8. Hasan, Haji; Imam Masjid Agung, Xian; khusus diundang Cheng Ho untuk bergabung dengannya pada pelayaran ke-4 sebagai penerjemah-cum-penasihat.

9. Pu Rihe, keturunan Pu Shougeng yang adalah seorang warga Quanzhou terpandang berbasis pedagang Arab sekaligus Komisaris Perdagangan Luar Negeri semasa Dinasti Song dan Dinasti Yuan; awak kapal pada pelayaran ke-5.

10. Sha Ban, Haji; wakil ribuan rumah tangga pejabat militer; berasal dari Calicut; awak kapal pada pelayaran terakhir.

11. Xia Wennan; pribumi Quanzhou; cucu dari Imam masjid Quanzhou; sebagai awak kapal pada tiga ekspedisi antara tahun 1405-1424; perwira militer.

12. Pu Manu; pribumi Quanzhou; perwira militer.

13. Ha Zhi, perwira militer; tertangkap Suganla, Kerajaan Samudra.

14. Ma Bin, misi ke Champa dan Jawa.

15. Li Xing, Siam.

16. Yin Qing, utusan ke Malaka.

17. Wang Cong.

18. Wang Guitong.

19. Zhang Yuan, Siam.

20. Zhang Qian, Brunei.

21. Wu Bin, Raja Barat Jawa.

22. Zhu Yuan, Kamboja.

23. Hou Xian, Bengal.

24. Guo Wen, Siam.

25. Lin Gui, Champa.

26. Yang Min, Siam.

Berkat kehadiran armada pelayaran Muslim yang kuat, disamping tujuan-tujuan yang diumumkan tujuh pelayaran besar Cheng Ho yang bersejarah, sangat mungkin bahwa terdapat pesan tersirat yang tidak dinyatakan, yaitu untuk menyebarkan Islam di Kepulauan Asia Tenggara. Adalah tugas seorang Muslim taat untuk menyebarkan agama mereka kepada pihak lain.

Sumber :

1. Ming Shi, hal. 13, 47, 2314-2315, 2437,5131.

2. Liu Zhi 1708.

3. Peraturan tertulis Tahun 1407 tentang perlindungan Kaisar Yongle dikutip dalam Yu Zhengui, Zhongguo Lidai Zhengguan yu Yisilanjiao, hal. 130.

4. Foccardi, op. cit, hal. 24.

5. Tan Ta Sen, 2010, hal. 238-241.

About semar galieh

Check Also

Bolehkah Mengakikahi Diri Sendiri Setelah Dewasa?

Fikroh.com – Sebelumnya perlu untuk diketahui, bahwa akikah hukumnya sunah muakadah (sunah yang ditekankan), bukan …